Hujan Konvektif
Ceritanya saya sedang dalam perjalanan pulang dari kantor. Belum sampai 1 km menempuh perjalanan, tiba-tiba hujan turun sangat lebat. Untungnya saya belum terlalu jauh dari tempat berteduh, jadi masih sempat menepi sambil menunggu hujan reda.
Cuaca di Medan belakangan ini memang cukup mudah ditebak. Pagi cerah, siangnya terik, lalu sore hingga malam hujan. Kadang juga disertai angin kencang. Tidak heran kalau belakangan sering terlihat genangan di mana-mana, bahkan ada beberapa pohon tumbang yang menutup akses jalan.
Sembari menunggu hujan reda, saya sambil scroll media sosial untuk mengalihkan rasa bosan. Topik di beranda saya saat itu juga banyak yang membahas curah hujan di Medan. Ada yang membagikan kondisi jalan yang banjir, ada yang mengeluhkan macet karena hujan, dan ada juga yang membahas penyebab cuaca seperti ini.
Hingga kemudian saya menemukan satu konten yang membahas sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan cuaca di Medan belakangan ini. Dari situlah saya menemukan istilah yang sebelumnya belum pernah saya perhatikan, yaitu hujan konvektif. Karena penasaran, saya pun mencoba mencari tahu apa sebenarnya hujan konvektif itu.
Dari yang saya baca, prosesnya kurang lebih seperti ini. Matahari memanaskan bumi, udara di dekat permukaan ikut panas lalu naik ke atas sambil membawa uap air. Di atas sana udaranya lebih dingin, jadi uap air tadi berkumpul membentuk awan. Kalau awannya sudah semakin tebal dan tidak kuat menampung air, ya akhirnya turunlah hujan seperti yang sedang saya tunggu reda sore itu.
Entah sudah berapa lama saya berdiri di situ. Yang jelas, hujannya perlahan mulai berkurang. Kaki memang sudah mulai pegal, tapi karena keasyikan membaca tentang hujan konvektif, waktu menunggu jadi tidak terlalu terasa.
Setidaknya, sore itu saya tidak hanya menunggu hujan reda. Saya juga pulang dengan sedikit pemahaman tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di atas langit Medan belakangan ini.